Wanita.., Ujian.., Dan Fitnah Dunia ~
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
“Wanita di dunia akan berkata kepada bidadari surga, ‘kami mengerjakan
shalat, berpuasa, dan bersedekah, sedangkan kalian tidak melakukannya.
Kami, wanita di dunia, akan mengalahkan bidadari surga.’”
- Aisyah Ummul Mukminin r.a. -
Karena aku adalah wanita, maka ijinkan aku berbicara sebagai wanita
saudariku dan kepadamu saudaraku kaum muslimin yang dikasihi Allah.
Wanita adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang
memiliki banyak peran. Pada satu sisi ia mampu membawa manusia lainnya
ke dalam jannah, namun pada sisi yang lain dimana ketidakmampuan manusia
menjalankan tujuan serta tugasnya saat didunia sebagaimana yang Allah
telah perintahkan sehingga menyebabkan banyak melakukan dosa/maksiat
kepada Allah SWT, ternyata terdapat kelalaian yang disebabkan oleh
wanita. Karena itu wanita merupakan bagian dari peringatan kehidupan
dunia.
Dunia dengan segala isinya adalah fitnah yang banyak
menipu manusia. Dan Rasulullah saw., telah memberikan peringatan kepada
umatnya dalam berbagai kesempatan, beliau bersabda dalam hadisnya: Dari
Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya dunia itu
manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian
melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia
dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa
bani Israil disebabkan wanita”
(HR Muslim) (At-Taghaabun 14-15).
Dahsyatnya fitnah wanita telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Bahkan didalam surat ‘Ali Imran 14 menempatkan wanita sebagai urutan
pertama yang banyak dicintai oleh manusia dan pada saat yang sama
menjadi fitnah yang paling berbahaya untuk manusia.
Rasul Saw bersabda, “Sepeninggalku tidak ada fitnah yang lebih besar daripada wanita” (HR Bukhari, HR Muslim).
Perhatikanlah bahwa ucapan rasul ini adalah peringatan bagi kita kaum
wanita agar sangat berhati-hati berbicara, bersikap dan bertindak agar
kita tidak menjadi bagian dari fitnah dunia.
Sejarah telah
banyak menceritakan baik yang terjadi di masa Bani Israil maupun di masa
Rasululullah Saw yang menyangkut wanita yang dijadikan objek fitnah.
Kisah seorang rahib yang membakar jari-jari tangannya untuk mengingatkan
diri dari azab neraka ketika berhadapan dengan wanita yang sangat siap
pakai, kisah penjual minyak wangi yang mengotori dirinya dengan kotoran
dirinya agar wanita yang menggodanya lari, dan cerita nabi Yusuf a.s.
yang diabadikan Al-Qur’an.
Itu kisah-kisah mereka yang selamat
dari fitnah wanita. Sedangkan kisah mereka yang menjadi korban fitnah
wanita lebih banyak lagi. Kisah rahib yang mengobati wanita kemudian
berzina sampai hamil dan membunuhnya, sampai akhirnya musyrik karena
menyembah syaitan. Kisah raja Arab dari Bani Umayyah yang meninggal
dalam pelukan wanita dan banyak lagi kisah-kisah lainnya. Dan kisah yang
telah diperlihatkan oleh sejarah ternyata bukan menjadi berhenti di
suatu akhir masa, karena hingga dunia berakhir dan dihancur leburkan
kembali oleh Sang Pencipta maka wanita masih menjadi bagian dari fitnah
yang paling berbahaya.
Lihatlah usia dunia yang semakin renta
ini, dan lihatlah apa yang terjadi pada banyak umat manusia dahulu dan
umat manusia saat ini. Sejarah jahilliyah adalah sejarah kelam hingga
kedatangan Islam yang menegakkan panji-panji kebesaran-Nya, mengangkat
harkat martabat wanita yang sebelumnya sungguh memilukan, menempatkannya
sejajar dalam hak serta kewajibannya untuk beribadah, berperan
membangun tegaknya kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Rasulullah saw., pada 14 abad lalu telah menyatakan dalam sebuah hadis
yang terkenal disebut dengan hadits Wahn, ”Hampir saja bangsa-bangsa
mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat makanan.
Berkata seorang sahabat, “Apakah karena kita sedikit pada saat itu?
Rasul Saw. bersabda,” Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian
seperti buih, seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh
kalian rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian
Wahn. Berkata seorang sahabat,” Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw ?
Rasul saw, bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud).
Secara umum fitnah kehidupan dunia dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk, yaitu: wanita, harta dan kekuasaan.
Dan diantara 3 macam fitnah itu fitnah wanita adalah yang paling besar.
Banyak sekali bentuk fitnah wanita, jika wanita itu isteri maka banyak
para isteri dapat memalingkan suaminya dari ibadah, dakwah dan amal
shalih yang menjadi tanggungjawab utama lainnya. Karena istri yang cinta
harta, terkadang dapat menjerumuskan suaminya untuk berbuat dosa dengan
mencari harta yg tidak halal, menjadikannya cinta dunia dan lalai akan
akhirat. Jika wanita itu wanita selain isterinya, maka fitnah dapat
berbentuk perzinaan. Fitnah inilah yang sangat dahsyat yang menimpa
banyak umat Islam.
Pertanyaannya, “Bagaimana kita bisa
menyelamatkan diri kita agar selamat dari fitnah dan tidak menjadi
bagian dari fitnah?”. Ini adalah pertanyaan yang sangat penting untuk
dianalisa, dikaji dan dipahami oleh setiap muslimah.
Bagaimana Wanita Muslimah Menyelamatkan Diri
Dari Fitnah
© Hindari gosip
Kalo ditanya acara apa yang menduduki top ranking di banyak stasiun
televisi adalah acara yang sangat tidak bermanfaat ini. Berita artis,
gosip artis apapun nama bekennya yang sama sekali tidak mendidik. Sangat
penting bagi wanita untuk meninggalkan segala bentuk gosip entah itu
ikut nimbrung dengar kawan untuk bergosip atau menonton/mendengar acara
gosip. Dengan menghindari masuknya gosip maka tidak akan punya bahan
untuk bergosip. Ingatlah gosip itu sebagai perbuatan yang sangat
menjijikkan (Al-hujurat 12). Yang bermakna :
“Hai orang-orang
yg beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu adalah dosa, Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain”
© Menjaga pakaian
Wanita tidak hanya
harus bisa menjaga pandangannya tetapi terlebih lagi harus bisa menjaga
tubuhnya agar tidak menjadi sumber pandangan. Perhatikanlah cara
berpakaian kita. Hindari pakaian yang menampilkan lekuk tubuh, bahan
yang terlalu tipis, dan terbuka aurat. Namun juga kita harus tetap bisa
tampil bersih, rapi, menyenangkan dan syar’i.
“Katakanlah
kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita
islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan
laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur:31).
© Tidak Berhias Berlebihan / Tabarruj
“Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan segala yang dapat mengundang syahwat laki-laki.”
Ibnul Atsir rahimahullahu berkata: “Tabarruj adalah menampakkan
perhiasan kepada laki-laki yang bukan mahram (ajnabi). Perbuatan seperti
ini jelas tercela. Adapun menampakkan perhiasan kepada suami, tidaklah
tercela. Inilah makna dari lafaz hadits, ‘(menampakkan perhiasan) tidak
pada tempatnya’.” (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)
Kenyataan
yang kita dapatkan di sekitar kita. Berseliwerannya wanita dengan
dandanan aduhai, ditambah wangi yang semerbak di jalan-jalan dan pusat
keramaian, sudah dianggap sesuatu yang lazim di negeri ini. Bahkan kita
akan dianggap aneh ketika mengingkarinya.
Kalau ada yang
menganggap larangan tabarruj itu hukumnya khusus bagi istri-istri
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka adalah pendamping
manusia pilihan, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara
wanita-wanita selain mereka tidak memiliki keistimewaan demikian, maka
kita tanyakan: Dari sisi mana penetapan hukum khusus tersebut, sementara
alasan dilarangnya tabarruj karena akan menimbulkan fitnah bagi
laki-laki?
Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali Ar-Razi Al-Jashshash
rahimahullahu menyatakan bahwa beberapa perkara yang disebutkan dalam
ayat ini (Al-Ahzab: 33) dan ayat-ayat sebelumnya merupakan pengajaran
adab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap istri-istri Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjagaan terhadap mereka dan
seluruh wanitanya kaum mukminin juga dituju oleh ayat-ayat ini7.
(Ahkamul Qur`an, 3/471)
Surat An-Nur ayat 60 juga menunjukkan
bahwa larangan tabarruj tidak hanya khusus bagi ummahatul mukminin,
namun berlaku umum bagi seluruh mukminah. Bila wanita yang sudah tua dan
sudah mengalami menopause saja dilarang tabarruj sebagaimana dalam ayat
(An-Nur: 60) yang bermakna :
“Dengan tidak bermaksud tabarruj dengan perhiasan yang dikenakan…”
Tentunya larangan kepada wanita yang masih muda lebih utama lagi.
Wanita yang keluar rumah dengan tabarruj hendaknya berhati-hati dengan
ancaman yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
sabdanya berikut ini:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka
yang keduanya belum pernah aku lihat, pertama: satu kaum yang memiliki
cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia.
Kedua: para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menyimpangkan
lagi menyelewengkan orang dari kebenaran. Kepala-kepala mereka seperti
punuk unta yang miring/condong. Mereka ini tidak akan masuk surga dan
tidak akan mencium wanginya surga padahal wanginya surga sudah tercium
dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.” (HR. Muslim no. 5547)
Kedua golongan di atas belum ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, namun sekarang telah kita dapatkan. Hal ini termasuk mukjizat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana apa yang beliau
kabarkan pasti terjadi. (Al-Minhaj, 14/336)
Yang perlu diingat,
tidaklah satu dosa diancam dengan keras melainkan menunjukkan bahwa dosa
tersebut termasuk dosa besar. Sementara wanita yang keluar rumah dengan
berpakaian namun hakikatnya telanjang, yang bertabarruj, berjalan
berlenggak lenggok di hadapan kaum lelaki hingga menjatuhkan mereka ke
dalam fitnah, dinyatakan tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
bau surga.
Dengan keterangan di atas insya Allah menjadi jelas
bagi kita apa yang dimaukan dengan tabarruj. Hukumnya pun tampak bagi
kita, yakni seorang muslimah dilarang keluar rumah dengan tabarruj.
Namun sangat disesalkan kenyataan yang kita dapatkan di sekitar kita.
Berseliwerannya wanita dengan dandanan aduhai, ditambah wangi yang
semerbak di jalan-jalan dan pusat keramaian, sudah dianggap sesuatu yang
lazim di negeri ini.
Bahkan kita akan dianggap aneh ketika mengingkarinya.
Tidak usahlah kita membicarakan para wanita yang berpakaian “telanjang”
di jalan-jalan, karena keadaan mereka sudah sangat parah, membuat orang
yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir bergidik dan
terus beristighfar. Cukup yang kita tuju para muslimah yang masih punya
kesadaran berislam walaupun mungkin setipis kulit ari, hingga mereka
menutup rambut mereka dengan kerudung dan membalut tubuh mereka dengan
pakaian sampai mata kaki dengan berbagai model.
Sangat
disesalkan para muslimah yang berkerudung ini ikut berlomba-lomba
memperindah penampilannya di depan umum dengan model “busana muslimah”
terkini dan kerudung ‘gaul’ yang penuh pernak-pernik, pendek, dan
transparan.
Sehingga, berbusana yang sejatinya bertujuan
menutup aurat dan keindahan seorang muslimah di hadapan lelaki selain
mahramnya, malah justru menonjolkan keindahan. Belum lagi wajah dan
bibir yang dipoles warna-warni. Tangan yang dihiasi gelang, jari-jemari
yang diperindah dengan cincin-cincin, dan parfum yang dioleskan ke tubuh
dan pakaian. Semuanya dipersembahkan di hadapan umum, seolah si wanita
berkata, “Lihatlah aku, pandangilah aku…”.
Laki-laki yang
memang diciptakan punya ketertarikan terhadap wanita, tentunya akan
tergoda melihat si wanita keluar dengan keindahannya. Bila tidak ada
iman yang menahannya dari kenistaan, niscaya ia akan berpikir
macam-macam yang pada akhirnya akan menyeretnya dan menyeret si wanita
pada kekejian.
© Betahlah di rumah
Jika tidak punya
keperluan yang penting, lebih baik bagi wanita untuk berada di rumah.
Jadikan rumah kita sebagai tempat berkumpul dengan teman-teman daripada
harus bertemu di café atau tempat-tempat umum lainnya. Jangan lupa untuk
mengajak tamu kita untuk sholat atau tilawah bersama dan muliakan dia
dengan memberinya hidangan. (tentu teman sesama wanita)
© Memelihara pikiran
Sibukkanlah pikiran kita dengan hal-hal berguna hingga ia tidak
memberikan tempat bagi pikiran jelek. Bila kita membiarkan satu pikiran
jelek ada dalam otak kita, maka ia akan turun ke hati. Jika ada
kesempatan yang pas, maka sadar ataupun tidak sadar kita akan
melepaskannya. Bunuhlah pikiran jelek itu sebelum ia membunuh amal kita.
© Hati-hatilah memilih teman
Seperti disebut dalam poin pertama, hendaknya kita menghindari gosip.
Salah satu caranya adalah dengan memilih teman yang tepat yaitu teman
yang selalu mengajak kepada kebenaran, mengingatkan kita jika salah.
Bukan teman yang hanya suka berhura-hura. Rasul berpesan, “Seseorang
akan mengikuti cara temannya, maka berhati-hatilah memilih teman yang
anda percayai” (HR Abu Daud). Jangan takut untuk melepas teman yang
tidak mau diajak kepada kebaikan.
© Hati-hati memilih tempat bersosial
Memilih tempat bergaul juga sangat penting untuk diperhatikan. Tentu
bar dan nightclub bukanlah tempat seorang muslim. Jagalah kaki kita agar
tidak melangkah ke tempat-tempat yang berpotensi bisa menimbulkan
maksiat. Ini adalah peringatan bagi kaum wanita yang bangga dengan
sebutan “Miss Sosialita” “Wanita modern yang mesti Gaul”…sadarilah ini
bukanlah budaya Islami dan jangan mencampur adukkan budaya dengan aturan
yang telah jelas batasannya. Kita tdk bisa mengadaptasi suatu budaya
apalagi hodoisme, pluralisme ato banyak ragamnya “isme2” yang tujuannya
mengaburkan nilai-nilai murni yang sesungguhnya menghormati kedudukan
mulyanya seorang wanita.
© Hati-hati ketika “berselancar”
Dunia internet saat ini, tempat-tempat maksiat bisa dengan mudah
ditemui, diwebsite. Juga dalam bersosialisasi didunia maya (facebook,
multiply, twitter, dll). Pilihlah teman/ contact yang bisa menambah
iman, bukan berteman dengan orang yang suka menuliskan gosip. Selain itu
juga perhatikan seluruh media yang kita gunakan mulai dari majalah,
koran, televisi, radio, hp, dll. Pilihlah dengan hati-hati, karena
mereka bisa mempengaruhi pikiran kita.
© Menikahlah
Bagi siapa saja yang sudah merasa siap hidup berumah tangga baik secara
psikologis, agama maupun biologis, sebaiknya ia menikah. Menikah bisa
membuat hati lebih tenteram dan sejuk sekaligus menghindarkan dari
pikiran-pikiran jelek, mengurangi narsisme dan show off.
Rasul
mengatakan menikahlah terlebih dahulu sebagai solusi pertama, baru jika
tidak mampu ia disunnahkan untuk berpuasa. “Wahai para pemuda, siapa
saja diantara kamu sudah merasa mampu, menikahlah, namun jika tidak
mampu menikah, berpuasalah! “(HR Bukhari).
© Berpuasalah
Seperti disinggung diatas, bagi yang tidak mampu menikah sebaiknya
berpuasa. Tidak mampu disini bisa jadi karena tidak punya biaya atau
belum bertemu jodoh. Bersabarlah dan berpuasalah. Dengan berpuasa hati
dan pikiran menjadi lebih tenang karena puasa bisa mengurangi nafsu
terhadap dunia (Al- Qurtubi).
© Isi hati dengan Dzikir
Isilah tiap waktu kita dengan dzikir. Dzikir itu seperti petugas
keamanan yang melindungi hati kita dari bisikan dan pikiran jahat. Jika
hati kita terjaga, insya Allah lidah, hati, kaki, tangan, dan pikiran
kita juga akan terjaga.
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra :
Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Wahai kaum wanita, bersedekahlah
kalian dan perbanyaklah istigfar (memohon ampun). Karena aku melihat
kalian lebih banyak menjadi penghuni neraka. Seorang wanita yang cerdik
di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang
lebih banyak menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Kalian
banyak mengutuk dan mengingkari kebaikan suami. Aku tidak melihat
kurangnya akal dan agama yang lebih menguasai manusia dari kalian, serta
besar pula pengaruhnya kepada orang lelaki. Wanita itu bertanya lagi:
Wahai Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah saw.
menjawab: Yang dimaksud dengan kurang pada akal adalah karena dua orang
saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Ini adalah tanda
kekurangan akal. Dan seseorang wanita pula akan tinggal beberapa hari
dengan tidak mengerjakan sembahyang (kerana kedatangan haid) dan dia
pula ada kalanya tidak berpuasa pada Ramadan (kerana kedatangan haid
juga) maka ini dan (tanda yang menunjukkan kaum perempuan) kurang amal
agamanya (berbanding dengan kaum lelaki).” (Hadis riwayat Bukhari dan
Ibn Majah)
Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah
Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik
perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim).
Kata penyair tentang wanita,
Perempuan itu bukanlah dilihat dari harta dan kecantikannya
Sekali-kali bukan itu, begitu juga tidak dilihat dari silsilah nenek moyangnya
Tapi perempuan itu dilihat dari kesucian dan agamanya
Dan (dilihat) dari kebaikannya kepada suami dan anak-anaknya
Serta (dilihat) dari ketekunanya dalam menjalankan tugas rumahnya
Dan dia selalu menemanimu dikala suka dan duka
“Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak mudharat (bahaya) pada Allah
maksiat (dosamu) dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan
melarang kamu dari maksiat (dosa) untuk kepentinganmu sendiri.”
Fatimah az Zahra membaca zikir ini di waktu pagi dan sore:
“Wahai Yang Mahahidup dan Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon
pertolongan. Janganlah Engkau biarkan aku mengurusi masalahku sendiri
meski hanya sekejap mata, dan mudahkanlah urusanku semuanya.”
“Ya Allah… Tunjukkan kepada kami yang benar dan jadikan pilihan kami
mengikuti yang benar itu. Dan juga tunjukkan kepada kami yang tidak
benar dan permudahkan kami meninggalkannya.”